The Bigger Picture
Dunia semakin panas. Nilai semakin dingin. Kontradiksi yang gak penting tapi pernyataan yang pertama itu serius. Ini tidak berkaitan dengan isu global warming atau kekacauan ekosistem yang makin hari makin marak. Saya mau berbicara mengenai manusia.
Bagi saya, ciptaan Tuhan yang paling mengerikan adalah manusia. Tapi bagaimanapun juga, ngeri itu relatif, bukan? Secara pribadi, saya berpendapat demikian. Saya tidak pandai mengutip filosofi tapi membicarakan ini saya teringat pada perkataan klasik, "With great power comes great responsibilities." Manusia diberikan akal budi oleh pencipta. Sesuatu yang secara khusus dianugerahkan, tidak kepada apapun selain manusia. Mungkin memang Adam tidak sepatutnya memakan buah pengetahuan itu.
Manusia memiliki sifat adaptatif. Mereka seperti memiliki rasa haus yang tak kunjung terpuaskan. Selalu ingin lebih: dari orang lain terutama. Kain dan Habel atau Cain and Able kalau mau berlaga internasional. Sebuah cerita yang populer tentang kebohongan pertama manusia, juga aksi kriminal pertama yang dilakukan untuk mengatasi orang lain. Mengeliminasi sesama dan berdusta adalah kejahatan yang sudah dikenal sejak zaman manusia pertama yang tercatat dalam sejarah.
Lalu manusia pun mengembangkan zaman. Kompleksitas merayapi setiap aspek kehidupan. Semuanya dibuat begitu rumit. Dikatakanlah ini adalah untuk kebaikan kita semua. Maka lahirlah agama, politik, ekonomi, dan ide-ide brilian lainnya. Mereka yang tidak setuju boleh menciptakan ilmu-ilmu lain yang bertentangan dengan yang lainnya. Bagaimanapun juga, semua ciptaan itu adalah untuk memuaskan hati manusia akan hal-hal yang tak terjawab.
Mereka yang mampu, menciptakan sistem. Mereka yang malas, menuruti sistem. Mereka yang independen, menentang sistem. Mereka yang menutup mata, tidak melihat sistem. Saya secara pribadi merasa ketakutan.
Saya takut terhadap napsu manusia yang semakin tak terkendali. Tuhan tidak lagi menegur Kain, bertanya, "Di manakah adikmu?" Kain sudah semakin cerdas. Otaknya dipenuhi dengan konspirasi dan taktik untuk memenggal kepala para bidak dan men-skak mat lawannya. Pahit mengingat ini, membuat saya malas untuk berharap. Tidak perlu melihat gambar besar. Hiduplah sebagaimana adanya, sebagai pelajar, sebagai anak, sebagai orang tua, sebagai pegawai. Tidak perlu ikut campur dalam sistem, apapun itu. Karena inilah saya tidak keberatan lagi bila TheMarksMan berkoar ingin jadi presiden.
Terkadang saya merasa prihatin melihat mereka yang naif. Berpikir bahwa dengan berjuang, semuanya bisa dilakukan. Saya merasa benar karena hanya berjuang dalam sistem. Mengikuti kaidah-kaidah yang sudah ditetapkan orang, enggan untuk mencari jalan lain. Saya yang tidak suka akan perasaan tidak aman, si pengecut.
Sampai saya menemukan pernyataan ini di halaman facebook seorang relasi (nama tidak disamarkan),
Aju Ade: Ketika politik menyumbat ruang publik dengan kebohongan, adakah kesempatan untuk nurani berbicara? Sepenuh keyakinan kukatakan "ya". Dan bersama kita bisa.