Di suatu hari yang cerah, sebuah keluarga bahagia (yang rada2 ngawur juga kayanya), pergi jalan-jalan ke luar kota untuk mengisi liburan. Di tengah perjalanan panjang, mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah restoran bakmi yang mereka lewati. Melihat seorang pengemis yang menghampiri meja mereka, sang ayah memberikan sedikit uang dan mengucapkan sesuatu (masa iya gue promosi di sini?).
Melanjutkan perbuatannya, sang ayah berusaha membangun sebuah father-daughter conversation mengenai kehidupan.
Ayah: "Coba, kak, kez, mut, denger papap dulu. Kalian tau kan ada tiga tipe kecerdasan di dunia ini: IQ, EQ, dan SQ."
Ade2: "Hah? SQ apaan tuh?"
Ayah: *sedikit kesal* "Masa ga tau, de? SQ itu Spiritual Quotient. Menurut livepositive.com, adalah kecerdasan ultima yang bisa membawa makna lebih dalam hidup kita. Ini adalah mengenai semangat hidup, bagaimana kita carry on, meng-heal diri dalam menghadapi berbagai macam masalah, dan bagaimana kita live our life. (boong deng, bapaknya ga bilang gitu, ini mah gue search aja sendiri...)"
Ade2: "Oooo, iya, terus kenapa? Kalo gitu aku SQ dong. Hahahaha."
Ayah: *tidak menggubris komentar anaknya, diam2 merasa miris karena anaknya sama sekali ga punya SQ, bahkan mungkin EQ, IQ? hela napas dalam2 aja deh* "Ya, begitu tadi, contohnya sikap seseorang terhadap pengemis seperti tadi..."
Kakak: *berpikir, "apakah ini adalah ajang narsis? Ah, mana mungkin, ini mungkin cara seorang ayah aja untuk mengajari anak-anaknya dengan memberi contoh yang baik..."*
Ayah: "Ya, seperti papap bilang tadi. Misalnya aja orang ber-IQ tinggi. Ketika melihat pengemis seperti itu, yang ada di pikirannya mungkin adalah bahwa pengemis itu pasti sulit makan dan lain-lain karena tidak punya uang. Karenanya ketika si pengemis datang kepadanya, ia akan memberi uang."
Ayah: "Selanjutnya untuk orang yang ber-EQ tinggi, pandangannya terhadap cara hidup si pengemis akan lebih mendalam. Dia akan mengamati dari sorot matanya dan merasa terenyuh atas penderitaan-penderitaan berat yang telah menempa hidupnya. Karenanya, ketika si pengemis datang, ia mungkin akan memberi uang, lalu tersenyum, dalam hati mendoakan supaya si pengemis mendapat rezeki pada hari ini."
Ayah: "Sementara orang yang memiliki SQ akan mengerti lebih banyak. Bahwa pengemis ini memang memerlukan bantuan dalam bentuk materi dan support. Setelah memberi uang, ia mungkin akan tersenyum, dan mengajak ia mengobrol dan memberi motivasi kepada si pengemis, bagaimana cara menghadapi hidup dengan hati yang lebih bergembira." *wajah berseri-seri*
Ayah: *melanjutkan dengan penekanan* "Lalu, menurut kalian, mana yang lebih baik?"
Ade2 dan Ade3: *udah tau ke mana arah pembicaraan ini akan berlangsung* "yang terakhir lah, pap."
Ayah: "Nah, benar kan...?"
Kakak: *ketawa2* "Ahhh belom tentuuuu... Ini kan tergantung juga si pengemisnya punya tingkat kecerdasan yang mana. Misalnya dia ketemu orang yang ber-SQ tinggi sementara dia sendiri ga punya SQ dan lebih cenderung punya IQ. Ketika dia diajak duduk dan makan2, mungkin dia malah mikir, 'Haduh, apaan sih ni orang sok2 ngajak ngomong, drpd saya duduk dengerin dia ngoceh, mendingan saya jalan ke meja sebelah nyari duit lagi, daripada buang2 waktu kaya gini' Coba, jadi diperlukan tingkat kecerdasan yg baru, yang lebih strategic!"
Ayah: "........" *merasa terpukul karena pesan yang udah cape2 diomongin panjang2 malah diterima dengan ngelantur* "Ya udah, yang penting Kez ama Mut ngerti kan? Oh, mienya udah dateng. Ayo kita makan!"
...................inget lagi sama Paradoks Anak Jalanan ala Freckles v1.0 :)